Hari Jumat malam,30 September 2011, saya menyempatkan diri untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur khususnya Samarinda. Sebenarnya bukan baru kali ini KKSS mengadakan kegiatan seperti halal bi halal pada malam itu, namun pada kegiatan-kegiatan sebelumnya saya tidak mendapatkan informasi sehingga selalu tidak bisa hadir. Padahal, pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah etam (Kalimantan Timur ini), saya selalu berkeinginan untuk mengikuti dan berpartisipasi pada kegiatan KKSS. Namun baru malam itu saya sempat dan bisa hadir pada kegiatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu.
Halal bi halal yang mengambil tema sentral “menjalin silaturahim, mempererat kebersamaan” terasa lebih hikmat karena menghadirkan tokoh-tokoh lintas suku dan lintas agama yang ada di Kalimantan Timur. Hal ini untuk menunjukkan kalau eksistensi KKSS sebagai salah satu elemen masyarakat Kalimantan Timur selalu berusaha menjaga kebersamaan dan persatuan baik sesama warga perantauan dari Sulawesi Selatan maupun dengan masyarakat lokal dan perantau dari suku lain di Indonesia.
Bukti kalau kegiatan malam itu juga menjadi berkah dan kegembiraan suku lain adalah tercermin pada saat pengundian door prize. Ada beberapa peserta halal bi halal yang nota bene bukan suku bugis berhasil menggondol hadiah yang terbilang wah diantaranya kulkas. Dan yang lebih menunjukkan kebersamaa adalah ketika pengundian umroh yang merupakan hadiah utama, 1 diantara 3 hadiah umroh yang disediakan berhasil jatuh ke tangan masyarakat yang tidak beragama Islam. Dan lagi, yang menakjubkan pada malam itu adalah 3 orang yang berhasil meraih hadiah umroh, kesemuanya adalah wanita dan sama-sama berbaju coklat (heheh…,saya pikir ini bukan kebetulan). Mungkin, saya pikir, ini merupakan petanda bahwa suku bugis dimanapun berada senantiasa menjunjung kebersamaan dan menghormati perempuan sebagai sebuah warisan leluhur.
Halal bi halal yang juga diisi ceramah hikmah halal bi halal oleh Ustadz drs. Zainuddin Musadda,MA. (salah satu alumni pesantren Hidayatullah) menjadi sangat urgen karena tema yang diangkat adalah tentang keluarga kaitannya dengan silaturahim. Dalam ceramahnya, beliau mengungkapkan bahwa hal yang terjadi sekarng ini adalah realitas betapa kehidupan keluarga telah terjajah dengan modernitas sehingga melupakan akar kebahagiaan dalam keluarga yakni silaturahim.Lagi menurut beliau, kelurga yang hilang nilai silaturahimnya tidak akan pernah bahagia karena tidak ada komunikasi dan saling menjaga. Suami yang tidak menjalin silaturahim dengan istrinya akan berakhir dengan perceraian. Orang tua yang tidak menjalin silaturahim dengan anaknya maka akan berakhir dengan keterlantaran dan tidak adanya penghormatan dari anak pada orang tuanya.
Menurut beliau, 90 persen perceraian justru terjadi pada keluarga yang memiliki tingkat pendidikan menengah keatas. Ini karena, kesibukan dan pekerjaan telah membuat akar silaturahim dalam keluarga tercerabut. Waktu untuk bersama semakin berkurang.komunikasi semakin jarang dan masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Hal ini yang membuat kasih sayang yang seharusnya dibangun dengan adanya silaturahim menjadi hambar dan tidak memiliki makna.
Hikmah lain dari ceramah beliau adalah seseorang yang ingin mencapai kesempurnaan kebahagiaan dalam kehidupannya maka harus terpenuhi 3 syarat,yakni: petama, setiap gerak bibirnya senantiasa berdzikir dan mengingat Allah dalam keadaan apapun. Kedua, akhir segala aktifitasnya adalah di tempat sujud sehingga apapun persoalan yang dihadapinya maka dia selalu meminta petunjuk dalam sujudnya dan ketiga, orang yang akan sempurna kebahagiaannya adalah orang yang selalu menjalin silaturahim dengan orang lain.
Catatan yang tertinggal lainnya dari halal bihalal tersebut bagi saya adalah betapa KKSS dituntut untuk selalu bisa menjaga kerukunan antarsuku dimanapun KKSS dan warganya berada. Karena, kondisi masyarakat sekarang ini yang sedang sakit akan sangat mudah terprovokasi dan tersulut amarahnya sehingga berpeluang untuk menimbulkan konflik antarsuku maupun antaragama. KKSS harus mampu menjembatani perbedaan dan harus bisa menetralisir elemen yang membahayakan persatuan dan kerukunan. Ini merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat KKSS dimanapun mereka berada.
Keluarga besar KKSS harus tetap bisa menjunjung tinggi falsafah dan budaya ketimuran. Keluarga KKSS harus bisa menerapkan prinsif yang selama ini dijunjung tinggi yakni dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Selain itu, warisan leluhur yang mencerminkan persatuan dan kebersamaan yakni Malilu siPakainge, mali siparappe, rebba sipatokkong (saling mengingatkan ketika salah, saling membantu ketika terseret arus dan saling mendukung ketika terjatuh) harus tetap terjaga dan terpatri dalam dada masyarakat KKSS.
Catatan terakhir saya adalah betapa KKSS harus mampu mewadahi semua masyarakat perantau sulawesi selatan dimanapun berada. KKSS tidak boleh hanya menjadi milik sekelompok perantau elit yang sukses dan kemudian menjadikan KKSS sebagai bargaining posisi untuk kepentingan pribadi. KKSS harus mampu memikirkan kesejahteraan masyarakatnya tanpa meninggalkan keadilan bagi suku yang lain. Orang-orang KKSS yang sukses harus mampu menularkan kesuksesannya atau setidaknya menjadikan kesuksesannya itu sebagai rahmat bagi saudara sesuku tanpa menyakiti suku yang lain. Dalam hal ini, orang-orang KKSS yang sukses harus mampu memberikan pancing dan jangan ikan mentah pada saudara sesukunya yang masih tertinggal atau belum mandiri di rantau tanpa harus terjebak nepotisme. Sesungguhnya, itulah makna mendalam yang termaktub dalam prinsif mali siparappe dan rebba si patokkong. Bahasa mudahnya adalah kalau bukan kita siapa lagi yang membantu saudara sesuku yang mungkin sangat membutuhkan uluran tangan dari saudaranya yang lain. Kalau suku lain bisa membantu suku kita mengapa kita sebagai saudara tidak bisa.
Demikianlah catatan ringkas saya terkait dengan halal bi halal KKSS Kalimantan Timur. Semoga kedepannya, KKSS mampu memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi warganya dan tempat dimana mereka berkembang. Kedepannya, KKSS harus mampu membangun jaringan untuk menghidupkan dan membesarkan warganya dimanapun dan apapun aktifitas mereka.
Terima kasih bagi pengurus KKSS yang mampu dan mau berkorban untuk membangun KKSS ini.
Mariki Di’. TABE.
Kamaruddin,ST.
(salah satu perantau Sul-Sel di Samarinda)